Klik

Cari Blog Ini

Memuat...

Get Big Money With Your Website or Blog

Get cash from your website. Sign up as affiliate.

Selasa, 06 April 2010

MENARA BABEL MASA KINI (Menjadi Gereja Tradisi atau Gereja Missioner )


Tuhan Yesus adalah Kepala Gereja. Jika Ia yang menjadi Kepalanya berarti masa depan gereja ada dalam rancangan-Nya sendiri. Gereja dibentuk-Nya dengan blueprint yang sesuai dengan apa yang sudah ditentukan-Nya. Blueprint tersebut adalah menjadi terang bagi kegelapan dunia ini. Blueprint ini sesuai dengan arti kata gereja, eklesia yaitu orang-orang yang ditebus oleh Tuhan dari kegelapan dunia menuju pada terang Tuhan yang ajaib. Artinya, dipanggil dari kegelapan kepada terang Tuhan untuk menjadi terang Ilahi bagi kegelapan dunia ini.

Namun sayangnya, blueprint gereja ini sudah mengalami degradasi nilai. Gereja yang menjadi momentum karya Roh Kudus bagi dunia sudah menjadi monumental yang sifatnya statis—gereja yang diartikan sebagai bentuk monument gedung yang megah dengan segala fasilitasnya. Para pemimpin gereja yang Tuhan percayakan berjibaku untuk mengedepankan monumental ini daripada momentum kegerakan Roh Kudus untuk menjangkau yang belum terjangkau. Sifat ini menjadi kebiasaan turun-temurun sampai sekarang. Sampai-sampai ada isu santer terdengar bahwa gereja telah menjadi bisnis yang menguntungkan, dan menjadi ‘suatu kerajaan yang turun temurun.’ Karena tradisi ini, gereja sibuk untuk membenahi apa yang belum terbenahi. Atau, melengkapi segala fasilitas untuk kenikmatan bagi jemaatnya sendiri, tanpa menyadari tugasnya sebagai ambassador Allah bagi dunia.

Tidak heran, di belahan Benua Eropa gereja tradisi yang sifatnya monumental ini telah mati. Sudah menjadi rahasia umum banyak gereja di Benua Eropa, khususnya Inggris dan Amerika sudah dijual menjadi perpustakaan, ruang pertemuan, sekolah untuk umum, bahkan ada yang dijual untuk diskotik dan rumah ibadah Kaum Kedar. Padahal, kegerakan Roh Kudus yang dahsyat pernah terjadi di benua ini. Apa yang salah di sini? Apakah Tuhan tidak bertanggung jawab pada gereja-Nya sendiri? Dalam hal ini bukan Tuhan yang harus dipersalahkan. Sejak semula blueprint Allah telah menjadikan gereja sebagai ambassador­-Nya bagi dunia. Menurut Dr. Kim Jong Kuk, ada 10 (sepuluh) penyebab mengapa gereja misioner menjadi gereja tradisi, yang saya simpulkan menjadi 7 (tujuh) keegoisan gereja masa ini.

Pertama, gereja sibuk dalam berbagai kegiatannya sendiri. Dengan kata lain, gereja sudah menikmati zona nyaman dengan sibuk untuk mengurus kepentingan pribadinya sendiri daripada kepentingan Tuhan bagi dunia. Prioritas gereja hanya apa yang perlu bagi jemaatnya, daripada apa yang dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang terhilang. Kedua, gereja sibuk dengan konflik-konflik intern yang terus menerus tanpa ada penyelesaian kedewasaan yang matang bagi jemaatnya. Ketiga, program gereja, terutama program penjangkauan jiwa-jiwa hanya ada dalam daftar yang tercatat di atas kertas, tanpa ada realisasi yang jelas. Keempat,  gereja telah hidup dalam dunia hedonism, yaitu menganjurkan kepada jemaat untuk berkorban, namun biasanya hanya untuk kepentingan kenyamanan jemaatnya itu sendiri, daripada kepentingan misi Tuhan yang lebih besar. Kelima, gereja telah menjadi hakim bagi jiwa-jiwa yang harus diselamatkan. Artinya, gereja hanya membatasi misi yang sifatnya menurut geografis, tanpa melihat misi dalam kerangka yang sifatnya holistis. Keenam,  tidak ada keinginan gereja untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga misi dunia. Ketujuh, gereja sibuk dengan ‘sebuah gerombolan orang-orang’ yang sukar untuk dimuridkan, apalagi untuk diutus bagi jiwa-jiwa yang terhilang.  

Di mana posisi gereja kita sekarang ini? Apakah kita sibuk dengan urusan gereja kita terus-menerus, atau kita melihat momentum kegerakan Allah bagi umat manusia? Jangan sampai gereja kita berakhir seperti “Menara Babel” yang dihancurkan Allah karena kita selalu memonumentalkan sebuah momentum kegerakan Allah bagi dunia ini. Ingat, Alkitab pernah menegaskan bahwa “akhir dunia ini sudah dekat.” Dan sekarang ini, akhir dunia ini bukan hanya sudah dekat, melainkan sudah semakin dekat sekali. Menurut catatan saya 98% umat manusia di bumi ini pasti sudah pernah mendengar tentang Yesus dan karya-Nya (Injil). Itu berarti tinggal 2% saja yang belum mendengar. Artinya, jika semua orang sudah mendengar Injil, Tuhan Yesus pasti datang menjemput umat-Nya yang setia.(GG)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar